Repetition Compulsion: Mengapa Kita Kerap Kembali pada Luka yang Sama?

Manusia sering kali percaya bahwa dirinya bergerak maju. Namun, dalam diam, psikis kerap bekerja seperti jarum jam tua: berputar, tetapi kembali ke titik yang sama. Ada seseorang yang berkali-kali jatuh pada hubungan yang serupa—pasangan yang dingin, manipulatif, atau meninggalkan. Ada pula yang terus menempatkan dirinya pada situasi yang melukai, seolah penderitaan memiliki daya gravitasi tersendiri. Dalam psikoanalisis, fenomena ini dikenal sebagai repetition compulsion.

Konsep repetition compulsion pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud melalui karya Beyond the Pleasure Principle (1920). Freud mengamati sesuatu yang ganjil: manusia tidak selalu mengejar kesenangan dan menghindari penderitaan. Sebaliknya, individu sering mengulangi pengalaman yang menyakitkan, bahkan ketika pengalaman itu jelas membawa kerugian psikologis.

Bagi Freud, pengulangan ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan dorongan bawah sadar untuk menghidupkan kembali pengalaman yang belum terselesaikan. Trauma yang gagal diproses tidak benar-benar hilang; ia berubah bentuk, menyusup ke dalam relasi, mimpi, pilihan hidup, dan pola afeksi. Dengan kata lain, masa lalu tidak pernah benar-benar berlalu. Ia tinggal sebagai residu psikologis yang terus mencari kesempatan untuk diulang.

Freud dalam esainya Remembering, Repeating and Working-Through menjelaskan bahwa pasien sering kali tidak mengingat trauma secara sadar, melainkan “memerankannya kembali” (acting out). Seseorang tidak mengingat secara eksplisit bagaimana ia pernah ditolak, tetapi tanpa sadar terus mencari relasi yang menghasilkan penolakan serupa. Trauma menjadi naskah tak terlihat yang mengarahkan panggung kehidupan.

Perspektif ini kemudian berkembang melalui penelitian kontemporer mengenai trauma. Kajian menunjukkan bahwa pengalaman traumatis yang terdisosiasi dapat muncul kembali dalam bentuk mimpi buruk, kilas balik (flashback), atau pola relasi yang berulang. Trauma, dalam pengertian ini, bukan sekadar ingatan tentang peristiwa, melainkan pengalaman yang belum memperoleh representasi simbolik dalam kesadaran.

Levy (2000) menyebut bahwa repetition compulsion merupakan salah satu konsep paling misterius dalam psikoanalisis karena tujuan dan mekanismenya belum sepenuhnya dipahami. Salah satu hipotesis menyatakan bahwa pengulangan terjadi sebagai upaya memperoleh penguasaan (mastery) atas trauma masa lalu. Akan tetapi, penelitian menunjukkan bahwa upaya ini sering gagal. Alih-alih menyembuhkan luka, pengulangan justru memperdalam penderitaan.

Di sinilah paradoks manusia menjadi tampak. Mengapa seseorang bertahan pada pola yang melukai? Salah satu jawabannya adalah karena psikis lebih akrab dengan penderitaan yang dikenal daripada kebahagiaan yang asing. Yang familiar, meskipun menyakitkan, sering kali terasa lebih aman dibanding kemungkinan baru yang tidak terprediksi. Dengan demikian, individu tidak selalu memilih apa yang sehat; kadang ia memilih apa yang dikenalnya sejak lama.

Dalam perkembangan teori psikologi modern, konsep repetition compulsion juga berdialog dengan teori keterikatan (attachment theory) dan terapi skema (schema therapy). Pengalaman relasi awal dengan pengasuh membentuk skema mental mengenai diri dan orang lain. Ketika skema ini maladaptif, individu cenderung mereproduksi pola relasi yang sama sepanjang hidupnya. Dengan kata lain, pengulangan bukan sekadar perilaku, melainkan reproduksi struktur relasional yang telah tertanam sejak dini.

Fenomena ini tampak jelas dalam relasi interpersonal. Korban pengabaian emosional dapat tertarik pada pasangan yang sulit dijangkau secara emosional. Individu yang tumbuh dalam lingkungan penuh kritik mungkin tanpa sadar mencari relasi yang kembali menghadirkan kritik serupa. Dalam konteks ini, cinta kadang bukan pencarian atas kebahagiaan, melainkan pencarian atas sesuatu yang terasa akrab bagi psikis.

Namun demikian, pengulangan bukanlah takdir. Psikoterapi bekerja justru dengan membantu individu mengubah apa yang semula diulang menjadi sesuatu yang dapat diingat, dipahami, dan dimaknai. Ketika pengalaman traumatis memperoleh bahasa dan simbol, ia tidak lagi harus berbicara melalui gejala atau pengulangan. Proses terapeutik memungkinkan seseorang berpindah dari sekadar menghidupi kembali masa lalu menuju kemampuan untuk menarasikannya.

Pada akhirnya, repetition compulsion mengajarkan bahwa manusia tidak selalu terikat oleh apa yang disadarinya, melainkan juga oleh apa yang gagal disadarinya. Luka yang tidak diucapkan sering kali kembali dalam bentuk pilihan hidup. Dan mungkin, tugas paling sulit dalam kehidupan bukanlah melupakan masa lalu, melainkan mengenali bagaimana masa lalu diam-diam hidup di dalam diri kita.

Tidak ada komentar: