16 Juni 2026 — Wildan Mubaarak
Akhirnya aku menemukan jawaban atas sebagian besar gundah dan gelisah yang selama ini mengendap dalam diriku. Dan seperti biasanya, aku sering kali salah dalam mengekspresikannya. Kesadaran itu datang selepas salat dan saat jogging—dua ruang sunyi yang kerap mempertemukanku dengan diriku sendiri. Ditambah lagi, karya-karya Freud seolah memberiku sudut pandang baru, bahwa alam bawah sadar ternyata tak pernah benar-benar diam. Ia selalu memberi tanda, memberi peringatan ketika ada sesuatu yang terlupa atau belum terselesaikan dalam prosesku menjadi manusia yang utuh.
Mungkin itu rutinitas yang mulai kutinggalkan. Mungkin pula kewajiban yang perlahan kulalaikan.
Aku teringat, sejak November lalu aku berjanji pada diriku sendiri untuk membangun kebiasaan-kebiasaan baik dan menjalankan kewajibanku sebagai hamba-Nya dengan lebih sungguh-sungguh. Aku menjalaninya dengan cukup konsisten hingga Februari. Namun, pada bulan itu aku mengalami relapse. Aku bahkan sudah lupa apa saja pemicu yang menyeretku ke sana. Yang kuingat hanyalah aku hampir kehilangan arah. Syukurnya, aku tidak sampai kehilangan kendali sepenuhnya, dan pada akhirnya masih mampu kembali ke jalur yang telah kupilih.
Sejatinya, hidup memang tidak pernah benar-benar bebas dari trigger. Setiap hari selalu ada hal yang menguji keteguhan diri. Selama ini aku mampu menghadapinya, tetapi ada satu pemicu pada bulan Februari yang ternyata menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam—sesuatu yang telah lama tertanam dalam diriku. Aku mulai memahami bahwa trauma dan luka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hidup bersama kita, berjalan berdampingan dalam setiap fase kehidupan, hanya saja kadang mereka diam, kadang pula mereka berbicara.
Seperti yang pernah kutulis sebelumnya, secara tidak sadar aku selalu mencoba merangkai setiap persoalan yang kuhadapi. Hal yang paling mengejutkanku adalah bagaimana semuanya ternyata saling berkesinambungan. Seolah-olah ada kerangka besar yang perlahan tersusun, atau puzzle yang sedikit demi sedikit menemukan kepingnya. Apa yang dahulu terasa acak, kini mulai menunjukkan pola.
Lalu aku kembali pada kesadaran awal, rupanya ada beberapa hal yang mulai kutinggalkan. Aku tidak lagi rutin berolahraga. Aku berhenti membeli dan membaca buku sebagaimana biasanya. Aku juga mulai lalai dalam menjalankan perintah-Nya, menunda apa yang sebenarnya dapat segera dilaksanakan.
Barangkali kegelisahan yang selama ini kurasakan bukanlah musuh, melainkan alarm. Sebuah isyarat dari diriku sendiri bahwa ada bagian dari kehidupan yang mulai bergeser dari tempat semestinya.
Kini aku memahami bahwa menjadi manusia utuh bukanlah tentang tidak pernah jatuh, melainkan tentang kesediaan untuk terus kembali. Kembali pada kebiasaan baik. Kembali pada kesadaran. Dan yang terpenting, kembali kepada Tuhan.
Mungkin dua atau tiga tulisan terakhir yang kutulis bukan sekadar catatan biasa. Bisa jadi, itu adalah cara diriku sendiri menyelamatkan diriku dari belenggu.
Dan hari ini, aku kembali mengingat jalurku.
