Ungkapan “orang pintar yang bahagia itu jurang” dapat dipahami sebagai metafora tentang kedalaman batin. Jurang bukan berarti kosong, melainkan dalam, sunyi, dan kompleks. Begitu juga dengan individu yang cerdas dan tetap bahagia, kebahagiaan mereka sering kali bukan euforia dangkal, tetapi hasil dari proses psikologis yang panjang, reflektif, dan penuh pergulatan batin.

Dalam psikologi, individu dengan kapasitas intelektual tinggi cenderung memiliki tingkat refleksi diri (self-reflection) yang lebih kuat. Mereka tidak hanya mengalami peristiwa, tetapi juga menganalisis makna di baliknya. Hal ini sejalan dengan teori regulasi emosi yang menyatakan bahwa individu yang mampu melakukan cognitive reappraisal (menafsirkan ulang pengalaman) cenderung memiliki kestabilan emosi yang lebih matang.

Namun, kecerdasan juga sering berkaitan dengan overthinking dan kesadaran eksistensial. Orang yang berpikir lebih dalam akan lebih sadar terhadap kompleksitas hidup seperti luka masa lalu, makna penderitaan, dan ketidakpastian masa depan. Dari luar, mereka mungkin tampak tenang atau bahagia, tetapi di dalamnya terdapat “jurang” refleksi yang luas. Kebahagiaan mereka bukan ketidaktahuan, melainkan penerimaan setelah memahami realitas secara mendalam.

Dalam buku Loving the Wounded Soul karya Regis Machdy, dijelaskan bahwa kondisi mental manusia sangat kompleks karena melibatkan keterhubungan antara pikiran, emosi, dan pengalaman hidup. Depresi dan luka batin tidak pernah sederhana dan setiap individu memaknainya dengan cara yang berbeda.

Regis juga menekankan bahwa faktor internal seperti kepribadian dan inteligensi dapat memengaruhi kerentanan seseorang terhadap pergulatan mental. Artinya, orang yang cerdas bukan berarti lebih kebal terhadap luka, justru mereka sering memiliki kesadaran batin yang lebih dalam terhadap penderitaan dan makna hidup.

Lebih jauh, buku tersebut menjelaskan bahwa depresi dan luka jiwa bisa memiliki “higher meaning” atau makna yang lebih tinggi dalam perjalanan hidup manusia. Proses memahami luka, menerima, dan berdamai dengan diri sendiri menjadi bagian dari pertumbuhan psikologis yang mendalam.
Di sinilah relevansi metafora “jurang”: kedalaman batin yang terbentuk dari pengalaman luka dan refleksi, bukan sekadar keceriaan di permukaan.

Menurut pendekatan psikologi eksistensial, kebahagiaan sejati sering lahir setelah individu berhadapan dengan penderitaan, bukan menghindarinya. Dalam Loving the Wounded Soul, penulis bahkan menggambarkan pengalaman masuk ke “palung jiwa paling dalam dan amat gelap” sebagai bagian dari perjalanan memahami diri dan menyembuhkan luka batin.

Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan orang yang reflektif bukanlah kebahagiaan impulsif, melainkan hasil rekonsiliasi dengan luka. Mereka tidak selalu mengekspresikan kebahagiaan secara berisik, tetapi lebih stabil dan sadar. Secara psikologis, ini mendekati konsep eudaimonic well-being yaitu kebahagiaan yang berbasis makna, bukan sekadar kesenangan sesaat.

Dalam kehidupan nyata, kita bisa melihat “jurang kebahagiaan” ini pada orang yang tidak mudah bereaksi berlebihan terhadap masalah, lebih selektif dalam relasi sosial, menikmati kesendirian sebagai ruang refleksi, dan tidak meromantisasi luka tetapi memaknainya

Mereka mungkin terlihat pendiam, tetapi bukan karena kosong—melainkan karena sedang memproses banyak hal secara internal. Seperti yang ditegaskan dalam Loving the Wounded Soul, memahami kesehatan mental berarti berhenti menghakimi dan mulai menyadari bahwa setiap orang membawa luka yang tidak kasat mata.

“Orang pintar yang bahagia itu jurang” bukan berarti kebahagiaan mereka gelap, melainkan dalam. Berdasarkan psikologi dan perspektif Loving the Wounded Soul, kecerdasan sering berjalan berdampingan dengan kesadaran batin yang luas, luka yang disadari, dan pencarian makna hidup.

Kebahagiaan mereka tidak selalu riuh, tetapi matang. Tidak selalu ringan, tetapi stabil.
Dan justru karena mereka pernah menelusuri “jurang” luka dan refleksi itulah, kebahagiaan yang mereka miliki menjadi lebih autentik—bukan kebahagiaan yang naif, melainkan kebahagiaan yang lahir dari pemahaman, penerimaan, dan kedalaman jiwa.

Wildan Mubaarak Minggu, Februari 22, 2026
Read more ...

Dua hari terakhir ini perasaanku terasa gundah. Aku sendiri belum benar-benar mengerti apa yang sedang kuratapi, tetapi aku yakin kegelisahan ini ada hubungannya dengan luka-luka lama yang selama ini kupendam dan belum benar-benar selesai. Luka itu mungkin tidak lagi tampak di permukaan, namun rupanya masih berdenyut di dalam diam.

Setiap hari aku mencoba mensugesti diriku untuk menerima dan memaafkan masa lalu. Aku menanamkan keyakinan bahwa semua yang telah berlalu memang harus dilepaskan. Sugesti itu menjadi semacam mandat bagi diriku sendiri—sebuah dorongan untuk tetap hidup, tetap berkembang, dan tetap berjalan ke depan. Walau tidak selalu mudah, aku tahu proses ini penting untuk keberlanjutan diriku.

Sejak patah hati terbesarku, ada satu hal yang tanpa sadar tumbuh dalam diriku: tembok yang tinggi. Tembok itu kubangun untuk siapa pun yang ingin masuk ke dalam kehidupanku. Aku menjadi nyaman dengan hidup yang terisolasi—hidup di tempat di mana tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenalku, atau menjalani kehidupan sosial yang sangat minim. Dalam sepi itu, aku merasa aman. Namun di sisi lain, aku tahu bahwa keamanan itu lahir dari ketakutan.

Belakangan ini prinsip-prinsip yang pernah kubangun kembali muncul satu per satu. Seolah-olah mereka datang untuk mengingatkanku agar kembali menata hidup dengan lebih baik dan bertindak dengan lebih bijaksana. Aku merasa Tuhan sedang menunjukkan jalan-Nya. Aku dipertemukan kembali dengan orang-orang yang dulu pernah berproses bersamaku. Meski tidak banyak percakapan yang terjadi, ada rasa hangat dan bahagia karena bisa bertemu kembali. Seakan-akan semesta sedang memberi tanda bahwa aku tidak benar-benar sendiri.

Dari kisah romantikaku, aku belajar banyak. Aku belajar untuk tidak terlalu terjatuh ke dalam jurang romantisme dan tidak lagi meromantisasi tindakan yang sebenarnya menyakitkan atau keliru. Aku belajar bahwa mencintai tidak berarti harus mengabaikan logika dan harga diri.

Ada satu kutipan yang terus terngiang dalam pikiranku, sebuah anekdot yang sering dikaitkan dengan Sokrates:
"Bagaimanapun menikahlah. Jika kau mendapatkan istri yang baik, kau akan bahagia; jika kau mendapatkan istri yang buruk, kau akan menjadi seorang filsuf."

Kutipan itu terdengar sederhana, bahkan jenaka, tetapi bagiku ia terasa relevan. Bahwa dalam setiap pengalaman—baik atau buruk—selalu ada pelajaran. Kebahagiaan mengajarkanku rasa syukur, sementara luka mengajarkanku kedalaman berpikir dan kebijaksanaan.

Mungkin kegundahan ini bukan sekadar kesedihan. Mungkin ini adalah tanda bahwa aku sedang bertumbuh. Dan jika memang harus menjadi seorang “filsuf” karena pengalaman-pengalaman hidupku, maka biarlah. Setidaknya aku belajar, dan aku terus berjalan.

Wildan Mubaarak Minggu, Februari 22, 2026
Read more ...

Ada kesedihan yang datang tanpa sebab yang jelas. Ia tidak gaduh, tidak dramatis, tetapi menetap—diam-diam memenuhi ruang hati yang seharusnya sudah kosong. Saya sering bertanya pada diri sendiri, mengapa saya masih merasa sedih, padahal saya tidak benar-benar tahu apa yang sedang saya tangisi. Semuanya sudah berakhir, sudah saya terima dengan logika, sudah saya paksa untuk dilepaskan. Namun entah mengapa, ada bagian dari jiwa saya yang seolah belum pernah benar-benar pergi.

Yang paling membingungkan adalah ketika saya melihatnya dari jauh, bahkan hanya lewat layar, dan mendapati ia bersedih, saya pun ikut merasa sedih. Bukan karena saya masih memiliki hak untuk peduli, tetapi karena perasaan itu datang begitu saja, tanpa izin, tanpa alasan yang bisa dijelaskan. Seolah-olah benang merah itu masih belum terputus, ia tetap terhubung meski hubungan itu sendiri telah usai. Saya tidak lagi berada di sisinya, tetapi hati saya masih bereaksi terhadap hal-hal yang menyentuh hidupnya.

Saya sudah berusaha melepaskan. Berkali-kali meyakinkan diri bahwa semuanya telah selesai. Namun melepaskan ternyata bukan tentang seberapa kuat kita ingin pergi, melainkan seberapa dalam kita pernah tinggal. Ada hari-hari di mana saya merasa baik-baik saja, lalu di saat lain, saya diam-diam berharap bertemu dengannya secara kebetulan, di persimpangan jalan, di tempat yang tak direncanakan, di kemungkinan-kemungkinan kecil yang sebenarnya hampir mustahil. Dan anehnya, harapan kecil itu justru terasa paling menyakitkan. Setiap kemungkinan yang tidak terjadi seperti menusuk jantung perlahan, mengingatkan bahwa yang saya tunggu mungkin tidak akan pernah kembali.

Perasaan ini bukan lagi tentang ingin kembali sepenuhnya, melainkan tentang jiwa yang belum sepenuhnya terlepas. Ada keterikatan yang tidak lagi memiliki bentuk, tetapi masih memiliki rasa. Saya tidak menghubunginya, tidak mencarinya secara nyata, tetapi semesta seakan menunjukkan kabar tentangnya dan setiap kali melakukannya, hati saya seperti sesak.

Lalu, ketika semesta menunjukkan bahwa ia sudah memiliki yang baru, sesuatu di dalam diri saya runtuh. Bukan hanya sedih, tetapi hancur dalam diam. Rasanya seperti kehilangan untuk kedua kalinya—kali ini bukan karena perpisahan, melainkan karena kenyataan bahwa tempat saya benar-benar telah tergantikan. Saat itu saya sadar, bahwa selama ini mungkin saya belum benar-benar melepaskan, saya hanya belajar hidup dengan rasa yang masih tertinggal.

Yang menyakitkan bukan hanya tentang dia yang melanjutkan hidup, tetapi tentang saya yang masih merasa terhubung sementara ia sudah berjalan ke arah yang berbeda. Ada jarak yang tidak hanya memisahkan langkah, tetapi juga perasaan. Dan di situlah letak kesedihan yang paling sunyi, melepaskan dalam perlahan dan menyadari bahwa jiwa saya masih menoleh ke arah seseorang yang sudah tidak lagi menoleh kembali.

Mungkin beginilah rasanya—ketika hati sudah mencoba ikhlas, tetapi perasaan belum sepenuhnya selesai. Sebuah kesedihan tanpa nama, keterhubungan tanpa status, dan harapan kecil yang terus hidup meski tahu bahwa kemungkinan itu semakin menjauh.

Wildan Mubaarak Minggu, Februari 22, 2026
Read more ...


Buku Atomic Habits, James Clear memperkenalkan konsep penting bernama Goldilocks Rule, yaitu prinsip yang menjelaskan bahwa manusia paling termotivasi ketika mengerjakan sesuatu yang tingkat kesulitannya “pas”—tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Dalam konteks pembentukan kebiasaan, prinsip ini menjadi kunci untuk menjaga konsistensi dan motivasi dalam jangka panjang.

Goldilocks Rule berangkat dari gagasan bahwa motivasi tidak hanya ditentukan oleh niat atau disiplin, tetapi juga oleh desain tingkat tantangan. Ketika sebuah tugas terlalu mudah, otak cenderung merasa bosan karena tidak ada dorongan untuk berkembang. Sebaliknya, ketika tugas terlalu sulit, muncul rasa frustrasi, kelelahan mental, dan keinginan untuk menyerah. Namun ketika tingkat kesulitan berada sedikit di atas kemampuan saat ini, kita merasakan tantangan yang cukup menarik sekaligus masih dapat dicapai. Kondisi inilah yang membuat seseorang lebih fokus, terlibat, dan konsisten dalam menjalankan kebiasaan.

Dalam banyak kasus membangun kebiasaan bukan karena kurang motivasi, melainkan karena menetapkan target yang tidak seimbang. Ada yang memulai terlalu besar, seperti langsung berolahraga satu jam setiap hari atau membaca satu buku per minggu, padahal belum memiliki kebiasaan dasar. Target yang terlalu tinggi sering kali menciptakan tekanan psikologis dan membuat kebiasaan terasa berat. Sebaliknya, target yang terlalu kecil tanpa perkembangan juga dapat menimbulkan kebosanan dan kehilangan makna. Goldilocks Rule menawarkan jalan tengah: menetapkan tantangan yang realistis tetapi tetap menantang agar kebiasaan terasa menarik untuk dipertahankan.

Prinsip ini juga berkaitan erat dengan konsep “flow”, yaitu kondisi ketika seseorang tenggelam dalam aktivitas dengan fokus penuh dan rasa keterlibatan tinggi. Flow terjadi saat ada keseimbangan antara kemampuan dan tantangan. Jika tantangan terlalu rendah, seseorang akan merasa jenuh. Jika terlalu tinggi, muncul kecemasan dan tekanan. Namun ketika keduanya selaras, aktivitas menjadi lebih menyenangkan dan produktif. Goldilocks Rule membantu menciptakan kondisi flow dengan cara menjaga tingkat kesulitan tetap berada dalam batas optimal.

Penerapan Goldilocks Rule dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Dalam belajar, materi yang terlalu mudah membuat siswa cepat bosan, sedangkan materi yang terlalu sulit dapat menurunkan rasa percaya diri. Materi dengan tingkat kesulitan yang tepat justru meningkatkan pemahaman dan ketekunan. Dalam olahraga, peningkatan intensitas latihan secara bertahap lebih efektif dibanding latihan ekstrem yang berisiko cedera atau kelelahan. Di dunia kerja, target yang realistis namun menantang cenderung menghasilkan performa yang lebih stabil dibanding target yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Hal yang sama berlaku dalam kebiasaan menulis, membaca, atau belajar keterampilan baru.

James Clear menekankan pentingnya peningkatan kecil yang konsisten sebagai strategi utama dalam menerapkan Goldilocks Rule. Alih-alih melakukan perubahan drastis, seseorang disarankan untuk meningkatkan tingkat kesulitan secara bertahap, misalnya sekitar 1–5 persen dari kemampuan sebelumnya. Pendekatan ini menjaga keseimbangan antara tantangan dan kemampuan, sehingga otak tetap tertarik tanpa merasa kewalahan. Kemajuan kecil yang berulang akan membangun rasa pencapaian, yang pada akhirnya memperkuat motivasi intrinsik.

Selain itu, Goldilocks Rule menunjukkan bahwa konsistensi lebih berpengaruh daripada intensitas sesaat. Banyak orang mengandalkan motivasi besar di awal, tetapi kehilangan semangat ketika kebiasaan terasa terlalu berat. Dengan tingkat kesulitan yang tepat, kebiasaan menjadi lebih mudah diulang karena tidak menimbulkan resistensi mental yang tinggi. Rasa kemajuan yang stabil juga membantu membentuk identitas diri, seperti melihat diri sebagai pembaca, penulis, atau individu yang disiplin. Identitas ini memperkuat perilaku positif secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, Goldilocks Rule dalam Atomic Habits menegaskan bahwa keseimbangan adalah inti dari pembentukan kebiasaan yang bertahan lama. Kebiasaan yang terlalu mudah tidak mendorong pertumbuhan, sedangkan kebiasaan yang terlalu sulit melemahkan konsistensi. Dengan menjaga tingkat tantangan tetap “pas”—cukup menantang namun tetap dapat dicapai—seseorang dapat mempertahankan motivasi, meningkatkan fokus, dan mencapai perkembangan jangka panjang secara berkelanjutan. Prinsip ini menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu berasal dari langkah ekstrem, melainkan dari kemajuan kecil yang dilakukan secara konsisten dan terarah.

Wildan Mubaarak Selasa, Februari 17, 2026
Read more ...

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa ada satu sosok yang ditakdirkan untuk mereka—sebuah benang merah yang tak terlihat namun diyakini nyata. Menariknya, dalam beberapa penelitian psikologi membuktikan bahwa kepercayaan ini bukan sekadar romantisasi kosong. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang dewasa mempercayai konsep soulmate, keyakinan tersebut diam-diam membentuk cara mereka mencintai, bertahan, dan terluka. 

Seseorang yang percaya pada cinta sebagai takdir cenderung jatuh cinta lebih cepat, merasa terhubung lebih dalam, tetapi juga mengalami patah hati yang lebih menyakitkan ketika hubungan berakhir. Fakta ini mengejutkan bahwa benang merah yang sering kita anggap menenangkan justru bisa menjadi alasan mengapa kita bertahan terlalu lama, berharap terlalu besar, dan sulit melepaskan sesuatu yang seharusnya sudah selesai.

Dialah Red String Theory yang mentebutkan bahwa keyakinan bahwa dua orang yang ditakdirkan saling terhubung oleh sebuah benang merah tak terlihat, menginspirasi banyak orang dalam memahami hubungan manusia. Mitos ini berasal dari budaya Tiongkok dan Jepang, tetapi apakah ada bukti ilmiah dalam psikologi yang mendukung ide takdir dalam hubungan? Jawabannya lebih kompleks daripada sekadar percaya atau tidak percaya.

Penting untuk dipahami bahwa Red String Theory tidak muncul sebagai konsep empiris dalam literatur psikologi. Tidak ada penelitian yang secara langsung membuktikan adanya “benang merah takdir” yang menghubungkan dua individu. Namun, penelitian psikologi telah lama meneliti keyakinan terhadap takdir dan pengaruhnya terhadap hubungan. Dalam kajian tentang kepercayaan terhadap “destiny” dalam hubungan romantis—pandangan bahwa ada “pasangan yang tepat” yang sudah ditetapkan sebelumnya—para peneliti menemukan dua pola utama pola berpikir dalam hubungan yaitu destiny belief dan growth belief

Destiny belief mencerminkan gagasan bahwa hubungan itu ditentukan sejak awal, sementara growth belief menekankan bahwa hubungan berkembang melalui usaha bersama. Pola berpikir ini berhubungan dengan cara orang memaknai dan memelihara hubungan mereka. Penelitian menemukan bahwa orang dengan growth belief cenderung melaporkan dinamika hubungan yang lebih sehat karena mereka melihat hubungan sebagai sesuatu yang perlu diusahakan bersama, bukan hanya sekadar takdir yang membimbing segalanya.

Keyakinan terhadap takdir atau “cinta sejati” dapat mempengaruhi pengalaman emosional seseorang dalam hubungan. Sebuah studi yang meneliti peran destiny belief dalam konteks perilaku hubungan online di China menemukan bahwa bagi individu dengan tingkat kepercayaan takdir yang tinggi, tekanan emosional setelah putus atau ghosting dapat berkurang karena mereka lebih cenderung memaknai perpisahan sebagai bagian dari perjalanan takdir. Hasil ini menunjukkan bahwa keyakinan terhadap takdir bisa memoderasi respon emosional seseorang terhadap dinamika hubungan.

Namun, dalam beberapa bukti ilmiah juga memperingatkan bahwa mengandalkan takdir tanpa usaha tidak selalu sehat. Faktor-faktor seperti attachment style—pola kelekatan emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan berlanjut hingga kehidupan dewasa—yang terbukti kuat dalam memprediksi kualitas hubungan. Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa attachment style yang tidak aman berkaitan dengan kepuasan hubungan yang lebih rendah dan peningkatan konflik interpersonal. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan hubungan lebih berkaitan dengan dinamika psikologis nyata dan kesiapan emosional individu daripada sekadar keyakinan takdir.

Dalam konteks yang lebih luas, keyakinan terhadap takdir—seperti yang digambarkan dalam Red String Theory—bisa menjadi mekanisme psikologis yang membantu beberapa individu memberi makna pada pengalaman hubungan, terutama di masa patah hati atau ketidakpastian. Tetapi jika kepercayaan ini membuat seseorang bersikap pasif dan tidak berusaha mengembangkan hubungan, itu bisa berdampak negatif.

Dalam beberapa perspektif psikologi, Red String Theory lebih merupakan metafora yang emosional dan simbolis, bukan teori ilmiah yang didukung langsung oleh data. Penelitian menunjukkan bahwa keyakinan terhadap takdir memang mempengaruhi bagaimana seseorang merasakan dan memaknai hubungan, tetapi keberhasilan hubungan sendiri juga sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terukur seperti pola attachment, komunikasi, dan usaha bersama. Dengan kata lain, kita tidak perlu menolak sepenuhnya gagasan takdir, tetapi peran takdir itu sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pengalaman subjektif, bukan sebagai penentu utama dari hasil hubungan.

Wildan Mubaarak Senin, Januari 19, 2026
Read more ...