Ada malam-malam tertentu ketika akal sehat berbicara paling lantang. Ia berkata: pergilah, sebab jalan ini sudah lama berkarat. Namun begitu fajar menyentuh wajah, kita kembali menatap layar ponsel dengan mata yang enggan berkedip, menunggu sebuah nama muncul di sana dan seperti roda pedati tua, kita kembali berputar di jalan yang sama, berulang, tanpa ujung.
Dalam ranah psikologi, keterjebakan pada satu orang ini jarang soal kesempurnaan mereka. Ia lebih menyerupai dua bayangan yang bersekongkol di dalam kepala kita: kesetiaan yang keliru pada waktu yang telah gugur, dan lukisan kenangan yang sengaja dipoles terlalu indah untuk jadi nyata.
Ekonomi perilaku menyimpan sebuah nama untuk luka ini: Sunk Cost Fallacy (Arkes & Blumer, 1985), kecenderungan manusia menggenggam erat sesuatu yang menyakitkan, hanya karena tangan itu sudah terlanjur basah oleh waktu, air mata, dan tenaga yang tak mungkin ditarik kembali dari jurang masa lalu.
Joel, MacDonald, dan Page-Gould (2018), dalam risalah mereka di Social Psychological and Personality Science, menemukan bahwa akar paling kukuh dari bertahannya seseorang dalam hubungan yang menyiksa adalah investasi yang telah tertanam ini. Ada suara kecil yang berbisik, "Aku sudah lima tahun berjalan bersamanya. Aku menemaninya dari titik nol. Jika kini aku melangkah pergi, bukankah seluruh pengorbanan itu akan menjadi debu yang sia-sia? Aku harus memulai lagi dari gelap, bersama orang asing."
Tanpa disadari, kita menukar masa depan yang mungkin saja cerah, demi "melunasi" utang masa lalu yang sebenarnya sudah lama hangus tak bersisa. Kita lupa satu hal sederhana: waktu yang telah berlalu tak pernah bisa kembali, entah kita memilih menetap di reruntuhan atau melangkah menjauh darinya.
Ketika keraguan mulai menggerogoti karena beban sunk cost tadi, otak menyalakan pertahanan keduanya: Rosy Retrospection, bias yang mewarnai ingatan dengan cat air paling cerah (Mitchell dkk., 1997). Bersamaan dengan itu, hadir pula Fading Affect Bias (Walker, Skowronski, & Thompson, 2003), sebuah keajaiban sekaligus jebakan neurologis, di mana luka lebih cepat memudar ketimbang bahagia.
Begitu hati mulai berniat pergi, otak seolah memutar gulungan pita lama berisi adegan-adegan terpilih: tawa di tengah hujan, kejutan ulang tahun dua musim silam, kata-kata manis di awal pertemuan yang masih terasa hangat. Sementara itu, ia diam-diam membakar arsip tentang makian, tangis yang berhari-hari tak reda, dan pengabaian yang pernah ia tanamkan. Pada akhirnya kita tak lagi mencintai manusia yang berdiri di hadapan kita hari ini kita mencintai hantu, bayang-bayang dari masa lalu, versi fantasi dari seseorang yang sudah lama berubah wujud.
Dan ketika kedua rantai ini bertaut, ia menjelma belenggu yang mematikan: kita bertahan karena merasa telah menanam terlalu dalam (Sunk Cost), lalu kita membenarkan luka itu dengan bisikan, "sebenarnya dia orang baik" (Rosy Retrospection).
Mari menengok sebuah kisah yang begitu akrab di ruang-ruang konseling. Sebut saja Maya (28 tahun), yang telah menempuh enam tahun perjalanan bersama Raka. Empat tahun terakhir dari perjalanan itu dipenuhi bayang perselingkuhan emosional dan gaslighting yang perlahan mengikis dirinya. Berkali-kali sahabatnya membisikkan kata "pergi", dan berkali-kali pula Maya bersiap melangkah namun tak pernah benar-benar sampai ke pintu.
Setiap kali kakinya nyaris melangkah pergi, air matanya jatuh lebih dulu, "Tapi akulah yang menemaninya saat sidang skripsi. Akulah yang tahu bagaimana rupanya ketika ia rapuh." (Sunk Cost Fallacy berbicara lewat mulutnya.)
Lalu ketika Raka datang membawa permintaan maaf sekecil apa pun, Maya luluh seketika. Pada psikolognya ia berkata, "Kemarin dia membelikan makanan kesukaanku. Dia masih Raka yang sama, yang dulu rela mengantarku pulang menembus banjir." Ingatan tentang sebulan penuh pengabaian lenyap begitu saja, tertutup kabut manis dari kenangan bertahun silam, Rosy Retrospection sedang bekerja dengan sempurna.
Maya baru benar-benar bisa melepaskan diri setelah menempuh terapi kognitif (CBT). Terapisnya memintanya mencatat, setiap hari selama sebulan, setiap perlakuan yang Raka berikan. Catatan harian itu menjelma bukti yang tak bisa dibantah, yang perlahan meruntuhkan kabut Rosy Retrospection di kepalanya hingga akhirnya ia melihat kenyataan yang tak lagi disensor oleh otaknya sendiri: bahwa jalan yang ia tempuh selama ini lebih banyak berisi luka ketimbang tawa.
Melepaskan seseorang bukan berarti membuang masa lalu ke tong sampah. Menyadari bahwa investasi lima atau sepuluh tahun kita telah berakhir memang seperti menelan pil pahit, rasanya seperti mengakui sebuah kekalahan yang begitu besar.
Namun ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan pada diri sendiri, pelan-pelan, di tengah kesunyian: jika waktu, tenaga, dan air mata yang telah tumpah di masa lalu memang sudah pasti tak bisa kembali, pantaskah kita mengorbankan lima tahun masa depan kita lagi, hanya demi menjaga sebuah ilusi tetap hidup?
Berhenti terjebak pada satu orang dimulai dari satu keberanian sederhana: melihatnya secara utuh dan lengkap dengan segala keretakan yang ia sandang hari ini, bukan potensi indah yang pernah ia janjikan di masa lalu. Anggaplah "kerugian" itu sebagai biaya kuliah kehidupan yang telah lunas kita bayar, agar kelak kita tahu ke mana harus menanamkan hati yang lebih layak menerimanya.