Dua hari terakhir ini perasaanku terasa gundah. Aku sendiri belum benar-benar mengerti apa yang sedang kuratapi, tetapi aku yakin kegelisahan ini ada hubungannya dengan luka-luka lama yang selama ini kupendam dan belum benar-benar selesai. Luka itu mungkin tidak lagi tampak di permukaan, namun rupanya masih berdenyut di dalam diam.
Setiap hari aku mencoba mensugesti diriku untuk menerima dan memaafkan masa lalu. Aku menanamkan keyakinan bahwa semua yang telah berlalu memang harus dilepaskan. Sugesti itu menjadi semacam mandat bagi diriku sendiri—sebuah dorongan untuk tetap hidup, tetap berkembang, dan tetap berjalan ke depan. Walau tidak selalu mudah, aku tahu proses ini penting untuk keberlanjutan diriku.
Sejak patah hati terbesarku, ada satu hal yang tanpa sadar tumbuh dalam diriku: tembok yang tinggi. Tembok itu kubangun untuk siapa pun yang ingin masuk ke dalam kehidupanku. Aku menjadi nyaman dengan hidup yang terisolasi—hidup di tempat di mana tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenalku, atau menjalani kehidupan sosial yang sangat minim. Dalam sepi itu, aku merasa aman. Namun di sisi lain, aku tahu bahwa keamanan itu lahir dari ketakutan.
Belakangan ini prinsip-prinsip yang pernah kubangun kembali muncul satu per satu. Seolah-olah mereka datang untuk mengingatkanku agar kembali menata hidup dengan lebih baik dan bertindak dengan lebih bijaksana. Aku merasa Tuhan sedang menunjukkan jalan-Nya. Aku dipertemukan kembali dengan orang-orang yang dulu pernah berproses bersamaku. Meski tidak banyak percakapan yang terjadi, ada rasa hangat dan bahagia karena bisa bertemu kembali. Seakan-akan semesta sedang memberi tanda bahwa aku tidak benar-benar sendiri.
Dari kisah romantikaku, aku belajar banyak. Aku belajar untuk tidak terlalu terjatuh ke dalam jurang romantisme dan tidak lagi meromantisasi tindakan yang sebenarnya menyakitkan atau keliru. Aku belajar bahwa mencintai tidak berarti harus mengabaikan logika dan harga diri.
Ada satu kutipan yang terus terngiang dalam pikiranku, sebuah anekdot yang sering dikaitkan dengan Sokrates:
"Bagaimanapun menikahlah. Jika kau mendapatkan istri yang baik, kau akan bahagia; jika kau mendapatkan istri yang buruk, kau akan menjadi seorang filsuf."
Kutipan itu terdengar sederhana, bahkan jenaka, tetapi bagiku ia terasa relevan. Bahwa dalam setiap pengalaman—baik atau buruk—selalu ada pelajaran. Kebahagiaan mengajarkanku rasa syukur, sementara luka mengajarkanku kedalaman berpikir dan kebijaksanaan.
Mungkin kegundahan ini bukan sekadar kesedihan. Mungkin ini adalah tanda bahwa aku sedang bertumbuh. Dan jika memang harus menjadi seorang “filsuf” karena pengalaman-pengalaman hidupku, maka biarlah. Setidaknya aku belajar, dan aku terus berjalan.

Tidak ada komentar: