DRUNK TEXT.

Ada kesedihan yang datang tanpa sebab yang jelas. Ia tidak gaduh, tidak dramatis, tetapi menetap—diam-diam memenuhi ruang hati yang seharusnya sudah kosong. Saya sering bertanya pada diri sendiri, mengapa saya masih merasa sedih, padahal saya tidak benar-benar tahu apa yang sedang saya tangisi. Semuanya sudah berakhir, sudah saya terima dengan logika, sudah saya paksa untuk dilepaskan. Namun entah mengapa, ada bagian dari jiwa saya yang seolah belum pernah benar-benar pergi.

Yang paling membingungkan adalah ketika saya melihatnya dari jauh, bahkan hanya lewat layar, dan mendapati ia bersedih, saya pun ikut merasa sedih. Bukan karena saya masih memiliki hak untuk peduli, tetapi karena perasaan itu datang begitu saja, tanpa izin, tanpa alasan yang bisa dijelaskan. Seolah-olah benang merah itu masih belum terputus, ia tetap terhubung meski hubungan itu sendiri telah usai. Saya tidak lagi berada di sisinya, tetapi hati saya masih bereaksi terhadap hal-hal yang menyentuh hidupnya.

Saya sudah berusaha melepaskan. Berkali-kali meyakinkan diri bahwa semuanya telah selesai. Namun melepaskan ternyata bukan tentang seberapa kuat kita ingin pergi, melainkan seberapa dalam kita pernah tinggal. Ada hari-hari di mana saya merasa baik-baik saja, lalu di saat lain, saya diam-diam berharap bertemu dengannya secara kebetulan, di persimpangan jalan, di tempat yang tak direncanakan, di kemungkinan-kemungkinan kecil yang sebenarnya hampir mustahil. Dan anehnya, harapan kecil itu justru terasa paling menyakitkan. Setiap kemungkinan yang tidak terjadi seperti menusuk jantung perlahan, mengingatkan bahwa yang saya tunggu mungkin tidak akan pernah kembali.

Perasaan ini bukan lagi tentang ingin kembali sepenuhnya, melainkan tentang jiwa yang belum sepenuhnya terlepas. Ada keterikatan yang tidak lagi memiliki bentuk, tetapi masih memiliki rasa. Saya tidak menghubunginya, tidak mencarinya secara nyata, tetapi semesta seakan menunjukkan kabar tentangnya dan setiap kali melakukannya, hati saya seperti sesak.

Lalu, ketika semesta menunjukkan bahwa ia sudah memiliki yang baru, sesuatu di dalam diri saya runtuh. Bukan hanya sedih, tetapi hancur dalam diam. Rasanya seperti kehilangan untuk kedua kalinya—kali ini bukan karena perpisahan, melainkan karena kenyataan bahwa tempat saya benar-benar telah tergantikan. Saat itu saya sadar, bahwa selama ini mungkin saya belum benar-benar melepaskan, saya hanya belajar hidup dengan rasa yang masih tertinggal.

Yang menyakitkan bukan hanya tentang dia yang melanjutkan hidup, tetapi tentang saya yang masih merasa terhubung sementara ia sudah berjalan ke arah yang berbeda. Ada jarak yang tidak hanya memisahkan langkah, tetapi juga perasaan. Dan di situlah letak kesedihan yang paling sunyi, melepaskan dalam perlahan dan menyadari bahwa jiwa saya masih menoleh ke arah seseorang yang sudah tidak lagi menoleh kembali.

Mungkin beginilah rasanya—ketika hati sudah mencoba ikhlas, tetapi perasaan belum sepenuhnya selesai. Sebuah kesedihan tanpa nama, keterhubungan tanpa status, dan harapan kecil yang terus hidup meski tahu bahwa kemungkinan itu semakin menjauh.

Tidak ada komentar: