Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa ada satu sosok yang ditakdirkan untuk mereka—sebuah benang merah yang tak terlihat namun diyakini nyata. Menariknya, dalam beberapa penelitian psikologi membuktikan bahwa kepercayaan ini bukan sekadar romantisasi kosong. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang dewasa mempercayai konsep soulmate, keyakinan tersebut diam-diam membentuk cara mereka mencintai, bertahan, dan terluka.
Seseorang yang percaya pada cinta sebagai takdir cenderung jatuh cinta lebih cepat, merasa terhubung lebih dalam, tetapi juga mengalami patah hati yang lebih menyakitkan ketika hubungan berakhir. Fakta ini mengejutkan bahwa benang merah yang sering kita anggap menenangkan justru bisa menjadi alasan mengapa kita bertahan terlalu lama, berharap terlalu besar, dan sulit melepaskan sesuatu yang seharusnya sudah selesai.
Dialah Red String Theory yang mentebutkan bahwa keyakinan bahwa dua orang yang ditakdirkan saling terhubung oleh sebuah benang merah tak terlihat, menginspirasi banyak orang dalam memahami hubungan manusia. Mitos ini berasal dari budaya Tiongkok dan Jepang, tetapi apakah ada bukti ilmiah dalam psikologi yang mendukung ide takdir dalam hubungan? Jawabannya lebih kompleks daripada sekadar percaya atau tidak percaya.
Penting untuk dipahami bahwa Red String Theory tidak muncul sebagai konsep empiris dalam literatur psikologi. Tidak ada penelitian yang secara langsung membuktikan adanya “benang merah takdir” yang menghubungkan dua individu. Namun, penelitian psikologi telah lama meneliti keyakinan terhadap takdir dan pengaruhnya terhadap hubungan. Dalam kajian tentang kepercayaan terhadap “destiny” dalam hubungan romantis—pandangan bahwa ada “pasangan yang tepat” yang sudah ditetapkan sebelumnya—para peneliti menemukan dua pola utama pola berpikir dalam hubungan yaitu destiny belief dan growth belief.
Destiny belief mencerminkan gagasan bahwa hubungan itu ditentukan sejak awal, sementara growth belief menekankan bahwa hubungan berkembang melalui usaha bersama. Pola berpikir ini berhubungan dengan cara orang memaknai dan memelihara hubungan mereka. Penelitian menemukan bahwa orang dengan growth belief cenderung melaporkan dinamika hubungan yang lebih sehat karena mereka melihat hubungan sebagai sesuatu yang perlu diusahakan bersama, bukan hanya sekadar takdir yang membimbing segalanya.
Keyakinan terhadap takdir atau “cinta sejati” dapat mempengaruhi pengalaman emosional seseorang dalam hubungan. Sebuah studi yang meneliti peran destiny belief dalam konteks perilaku hubungan online di China menemukan bahwa bagi individu dengan tingkat kepercayaan takdir yang tinggi, tekanan emosional setelah putus atau ghosting dapat berkurang karena mereka lebih cenderung memaknai perpisahan sebagai bagian dari perjalanan takdir. Hasil ini menunjukkan bahwa keyakinan terhadap takdir bisa memoderasi respon emosional seseorang terhadap dinamika hubungan.
Namun, dalam beberapa bukti ilmiah juga memperingatkan bahwa mengandalkan takdir tanpa usaha tidak selalu sehat. Faktor-faktor seperti attachment style—pola kelekatan emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan berlanjut hingga kehidupan dewasa—yang terbukti kuat dalam memprediksi kualitas hubungan. Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa attachment style yang tidak aman berkaitan dengan kepuasan hubungan yang lebih rendah dan peningkatan konflik interpersonal. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan hubungan lebih berkaitan dengan dinamika psikologis nyata dan kesiapan emosional individu daripada sekadar keyakinan takdir.
Dalam konteks yang lebih luas, keyakinan terhadap takdir—seperti yang digambarkan dalam Red String Theory—bisa menjadi mekanisme psikologis yang membantu beberapa individu memberi makna pada pengalaman hubungan, terutama di masa patah hati atau ketidakpastian. Tetapi jika kepercayaan ini membuat seseorang bersikap pasif dan tidak berusaha mengembangkan hubungan, itu bisa berdampak negatif.
Dalam beberapa perspektif psikologi, Red String Theory lebih merupakan metafora yang emosional dan simbolis, bukan teori ilmiah yang didukung langsung oleh data. Penelitian menunjukkan bahwa keyakinan terhadap takdir memang mempengaruhi bagaimana seseorang merasakan dan memaknai hubungan, tetapi keberhasilan hubungan sendiri juga sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terukur seperti pola attachment, komunikasi, dan usaha bersama. Dengan kata lain, kita tidak perlu menolak sepenuhnya gagasan takdir, tetapi peran takdir itu sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pengalaman subjektif, bukan sebagai penentu utama dari hasil hubungan.



Tidak ada komentar: