Behaviorisme merupakan salah satu aliran besar dalam psikologi yang menekankan bahwa perilaku manusia dapat dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah melalui pengamatan terhadap respons yang muncul akibat suatu stimulus. Aliran ini berkembang pesat pada awal abad ke-20 sebagai reaksi terhadap pendekatan psikologi sebelumnya yang dianggap terlalu subjektif karena berfokus pada kesadaran dan introspeksi.
Tokoh utama dalam aliran behaviorisme adalah John B. Watson, yang menyatakan bahwa psikologi seharusnya menjadi ilmu yang objektif dan hanya mempelajari perilaku yang dapat diamati. Menurut Watson (1913), perilaku manusia bukanlah hasil dari proses mental internal yang abstrak, melainkan terbentuk melalui hubungan antara stimulus dan respons (S–R). Pandangan ini menjadi dasar utama behaviorisme klasik.
Perkembangan behaviorisme semakin kuat dengan penelitian Ivan Pavlov mengenai classical conditioning. Pavlov membuktikan bahwa perilaku dapat dipelajari melalui proses pengkondisian, yaitu ketika stimulus netral dipasangkan secara berulang dengan stimulus yang menimbulkan respons alami. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa makhluk hidup dapat belajar membentuk respons baru melalui asosiasi stimulus tertentu (Pavlov, 1927).
Selain itu, B.F. Skinner memperkenalkan konsep operant conditioning, yang menekankan peran konsekuensi dalam membentuk perilaku. Skinner menjelaskan bahwa perilaku akan cenderung diulang jika diikuti oleh penguatan (reinforcement) dan akan berkurang jika diikuti oleh hukuman (punishment). Konsep ini banyak diterapkan dalam dunia pendidikan, manajemen, dan terapi perilaku karena dianggap efektif dalam membentuk kebiasaan tertentu (Skinner, 1953).
Dalam praktiknya, behaviorisme memiliki pengaruh besar terutama di bidang pendidikan. Proses belajar dipandang sebagai perubahan perilaku yang dapat diamati, misalnya melalui peningkatan nilai, kecepatan respon, atau penguasaan keterampilan tertentu. Guru berperan memberikan stimulus berupa materi dan penguatan agar siswa menunjukkan respons belajar yang diharapkan. Pendekatan ini juga banyak digunakan dalam terapi perilaku untuk mengatasi gangguan seperti fobia, kecanduan, dan gangguan perilaku anak.
Namun demikian, behaviorisme juga memiliki keterbatasan. Kritik utama terhadap aliran ini adalah kecenderungannya mengabaikan proses mental internal seperti pikiran, emosi, dan motivasi. Hal ini menyebabkan behaviorisme dianggap terlalu mekanistik dan kurang mampu menjelaskan perilaku kompleks manusia. Kritik tersebut kemudian melahirkan pendekatan kognitif yang melengkapi kelemahan behaviorisme.
Meskipun demikian, behaviorisme tetap memiliki kontribusi penting dalam perkembangan psikologi modern. Prinsip-prinsip pengkondisian dan penguatan masih relevan dan digunakan hingga saat ini, terutama dalam pembelajaran, pelatihan, dan modifikasi perilaku. Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis observasi, behaviorisme membantu psikologi menjadi disiplin ilmu yang lebih objektif dan terukur.