Dalam kehidupan modern yang sarat tekanan sosial, ekonomi, dan ekspektasi personal, seseorang kerap mencari cara untuk meredakan stres dan ketidaknyamanan psikologis. Salah satu fenomena yang semakin banyak dibahas dalam kajian psikologi maupun percakapan publik di media sosial adalah escapism. Escapism merujuk pada kecenderungan untuk melarikan diri dari realitas yang dirasa menekan menuju pengalaman alternatif yang dianggap lebih aman, menyenangkan, atau bermakna. Pelarian ini dapat berbentuk aktivitas yang tampak sederhana seperti bernostalgia, mengonsumsi hiburan digital secara berlebihan, hingga tenggelam dalam dunia imajiner.
Dalam literatur psikologi, escapism tidak selalu dipandang sebagai perilaku patologis. Beberapa jurnal menyebutkan bahwa escapism dapat berfungsi sebagai coping mechanism sementara untuk mengurangi stres dan kelelahan emosional (Baumeister, 1991). Dalam batas wajar, pelarian psikologis membantu individu mengatur regulasi emosi serta mempertahankan keseimbangan psikologis.
Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa escapism dapat menjadi maladaptif ketika digunakan secara berlebihan dan terus-menerus. Kardefelt-Winther (2014), dalam penelitiannya mengenai perilaku adiktif digital, menjelaskan bahwa escapism yang berakar pada ketidakmampuan menghadapi masalah hidup secara langsung dapat memperparah kecemasan, depresi, dan perasaan tidak berdaya. Dalam konteks ini, escapism bukan lagi sekadar pelarian sementara melainkan pola penghindaran kronis.
Perkembangan teknologi dan media digital memperluas bentuk escapism. Media sosial, gim daring, layanan streaming, dan komunitas virtual menyediakan ruang alternatif tempat yang dapat membangun identitas, relasi, dan pengalaman yang berbeda dari kehidupan nyata. Jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking mencatat bahwa individu dengan tingkat stres tinggi cenderung menggunakan dunia digital sebagai sarana regulasi emosi.
Media sosial menjadi ruang terbuka yang memperlihatkan berbagai manifestasi escapism. Beberapa kasus viral menunjukkan individu yang secara terbuka mengaku merasa "hidup di masa lalu", menolak bertambah dewasa, atau lebih merasa nyaman di dunia imajiner. Misalnya, tren konten yang meromantisasi masa sekolah dengan narasi penolakan terhadap tanggung jawab dewasa sering mendapat resonansi luas dari warganet.
Kasus lain terlihat pada pengakuan burnout pekerja muda yang memilih menghilang sementara dari kehidupan sosial nyata dan menghabiskan waktu berhari-hari dalam dunia gim atau maraton serial. Dalam beberapa unggahan, banyak orang menyebut aktivitas tersebut sebagai satu-satunya cara untuk "bertahan hidup secara mental". Meski mendapat empati publik, para psikolog yang turut merespons di media sosial menekankan bahwa pelarian semacam ini berpotensi menjadi siklus tidak sehat bila tidak diimbangi dengan pemecahan masalah nyata.
Fenomena escapism di media sosial memunculkan dilema antara empati dan kritik. Di satu sisi, perilaku ini mencerminkan kebutuhan psikologis yang valid—keinginan untuk merasa aman dan dipahami. Di sisi lain, normalisasi escapism ekstrem berisiko mengaburkan batas antara koping sehat dan penghindaran destruktif.
Escapism juga dapat muncul dalam bentuk romantisasi masa lalu. seseorang mengidealkan fase hidup tertentu—masa sekolah, hubungan lama, atau periode "kejayaan"—sebagai tempat berlindung psikologis dari realitas kini yang dianggap gagal atau tidak memuaskan. Fenomena ini kerap berkaitan dengan nostalgia maladaptif.
Jurnal Journal of Affective Disorders mencatat bahwa seseorang yang terus-menerus menghindari realitas cenderung mengalami penurunan fungsi sosial dan peningkatan gejala depresi. Oleh karena itu, penting untuk memandang escapism secara kontekstual: sebagai sinyal adanya tekanan psikologis yang belum terselesaikan.
Escapism merupakan fenomena kompleks yang berada di antara mekanisme koping adaptif dan potensi gangguan kesehatan mental. Dalam dunia modern yang penuh tekanan, pelarian psikologis menjadi respons yang manusiawi. Namun, ketika escapism menjadi satu-satunya cara menghadapi hidup, ia berubah menjadi penjara tak kasat mata.
Pendekatan yang seimbang diperlukan—baik secara individu maupun sosial. Alih-alih semata-mata menghakimi atau membenarkan, escapism seharusnya dipahami sebagai pintu masuk untuk membicarakan kesehatan mental, tekanan struktural, dan kebutuhan akan dukungan psikologis yang lebih manusiawi.



Tidak ada komentar: