Dibalik keputusan pejabat pemerintah dalam program kerjanya selama menjabat baik itu keputusan yang konyol maupun yang bagus, " Mendadak " ya inilah yang kita lihat pada pemerintahan kita yang selalu saja mendadak dalam membuat keputusan, tidak adanya pemberitahuan awal mengenai apa saja yang menjadi program selama 5 tahun menjadi alasan utama saya dalam menulis artikel ini.

Kata " Mendadak " sudah membudaya dikalangan masyarakat Indonesia, hal seperti inilah yang mewajibkan kita untuk berintropeksi diri masing-masing " Masihkah kita mengikuti budaya mendadak seperti ini ? ", dimulai dari diri kita masing-masing dibiasakan agar setiap membuat keputusan selalu membuat langkah-langkah dan dampak bagi kita maupun masyarakat.

Apakah keputusan pemerintah sudah ditimbang dengan baik ?, satu pertanyaan ini muncul seketika pemerintah membuat keputusan mendadak dalam program kerjanya apakah kah akan berdampak baik atau malah sebaliknya. Contoh saja dalam keputusannya yang booming saat ini sistem zonasi dan rektor asing.

Kita mulai dari sistem zonasi yang kiranya sudah tenggelam isunya namun masih diperdebatkan, dalam keputusan ini diri saya pribadi masih belum melihat apakah pemerintah melihat dampak dan akibatnya dimana fasilitas pendidikan yang tergolong masih kurang memadai membuat keputusan ini tidak sejalan dengan fasilitasnya dan tentu saja ini menguntungkan orang tua yang rumahnya dekat dengan sekolah namun sangat merugikan orang tua yang rumahnya jauh dari sekolah. Akibatnya banyak orang tua siswa yang bingung bagaimana menyekolahkan anaknya dikarenakan sekolah yang terdekat dari rumahnya sudah penuh ( untuk orang tua siswa yang rumahnya jauh ).

Rektor asing, apa yang pertama kali terlintas dipikiran kita saat membaca kata tersebut atau saja membaca beritanya dari koran maupun sosial media. Saya memikirkan tidak adanya kepercayaan pemerintah untuk rektor yang asalnya dari negaranya sendiri dan tidak adanya upaya dalam peningkatan lebih dalam merangkai seorag rektor menjadi rektor yang tidak kalah saing dengan rektor dari luar negeri ( semua saja pak diimpor kwkwkw ). Rektor kita bisa menjadi mumpuni dalam mengatasi sebuah Universitas namun kepercayaan pemerintah saja yang masih belum berkembang untuk selalu mempercayai dan mendukung rektor-rektor kita, adakah pemikiran Kemenristekdikti selain impor rektor ? sudah lah bahan-bahan pokok kita mengimpor masa iya rektor juga impor.

Dari dua kasus diatas kita melihat bahwa pemerintah kurang transparan dalam pengambilan keputusan dan program kerjanya tidak ada dijelaskan kepada masyarakat saat awal menjabat. Dalam Undang-Undang No. 14 tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik menjelaskan bahwa " memberikan kewajiban kepada setiap Badan Publik untuk membuka akses bagi setiap pemohon informasi publik untuk mendapatkan informasi publik, kecuali beberapa informasi tertentu. ".
Beberapa RUU hanya peraturan tertulis lalu disahkankan dan terbengkalai tanpa adanya kepatuhan dalam menaatinya lebih tepatnya barang rongsok.
Wildan Mubaarak Selasa, Agustus 27, 2019
Read more ...


Aman dan damai itulah harapan yang diinginkan oleh suatu Negara dalam keberlangsungan hidup dalam sebuah Negara. Indonesia merupakan Negara yang majemuk dimana didalamnya terdapat berbagai suku, agama dan budaya yang kaya akan nilai-nilai moral yang tertanam pada masing-masing aspek tersebut namun untuk mencapai menjadi Negara yang aman dan damai tersebut pastilah melewati beberapa permasalahan yang bersangkutpaut pada kemajemukannya, salah satunya perselisihan antar umat beragama yang akhir-akhir ini kian marak terjadi akibat ulah dari beberapa oknum yang sengaja mengadu domba Negara ini membesar-besarkan masalah kecil yang kalau diselesaikan dengan hal kecil pula dapat terselesaikan, oknum-oknum tertentu menggoreng permaslahan tersebut menjadi besar dengan benih-benih ujaran kebencian apalagi di zaman yang bisa terbilang gamblang dalam penyampaian informasi.

Berita yang tersampaikan selalu dipandang hanya dari satu sisi dan masing-masing yang melihat atau membaca (kalau dibaca) berita tersebut dari seluruh layar social media mempunyai tafsir tersendiri dari masing-masing individu, emosi yang masih belum stabil membuat sebagian khalayak luas menjadi beringas dalam berkomentar maupun membagikannya kepada teman atau grup tertentu. Kritis dikalangan masyarakat inilah yang perlu digarisbawahi sebagai sejata dalam meminimalisir perselisihan disisi lain juga Indonesia merupakan Negara dengan tingkat literasi yang rendah.

Beruntung sekali Indonesia memiliki Pancasila yang kaya akan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bernegara namun masyarakatnya sendiri pula lah yang masih belum benar-benar memahami nilai moral yang terkandung didalamnya padahal jika saja kita memahami nilai moral Pancasila Negara ini akan menjadi Negara yang sarat akan moralnya yang tinggi dengan saling bergotong-royong dan saling bahu-membahu dalam kebaikan sesama warga Negara.

Negara terbesar dengan populasi muslim terbesar didunia ini mempunyai masalah besar dalam kehidupan beragama didalamnya, rasa toleransi yang dinilai menurun menjadi pekerjaan besar yang wajib kita benahi bersama untuk menjadi penggerak dalam toleransi sesuai semboyan negeri ini “ Bhineka Tunggal Ika “ 3 kata sakti ini selalu mempersatukan bangsa dalam keadaan semrawut sekalipun. Dalam perspektif islam juga ada 3 Ukhuwah yang dapat menunjang toleransi ini yaitu Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyah dan Ukhuwah Bashariyah. Dari ketiga aspek ini kita melihat sekarang hanya Ukhuwah Islamiyah yang terjalin padahal ketiga aspek ini saling berkaitan tidak bisa terlepas satu sama lain, toleransi menjadi salah satu akar Negara Indonesia apabila ketiga aspek ini diamalkan.

" Jika kau sudah berbuat baik orang tidak akan bertanya apa agamamu, apa sukumu "

- Gusdur
Wildan Mubaarak Sabtu, Agustus 24, 2019
Read more ...
Creator Muda Academy Kota Pontianak


Potensi pemuda/I dapat digali lebih dalam lagi demi kemajuan bangsa ini bangsa Indonesia, dalam perkembangan zaman yang semakin cepat hingga saat ini, industri 4.0 dapat melenyapkan kita dalam sekejap karena perkembangannya yang begitu pesat. Salah satu penunjang yang dapat mengembangkan pola pikir para pemuda/I ialah literasi digital. 

Dengan meningkatkan literasi digital kita khususnya untuk kawula muda dapat menunjang kemajuan bangsa Indonesia, kenapa terkhusus pada kawula muda ? ya, kita tau sebagian kawula muda dalam kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari yang namanya gadget atau gawai dimulai dari bangun tidur hingga larut malam bahkan beberapa diantara mereka begadang hanya karena gawai, ada yang bermain game, chattingan/pesan online dengan teman maupun doinya (pacar atau gebetan :v), baca ebook atau wattpad dan banyak lagi kegiatan yang dilakukan dengan gawai mereka masing-masing.

Nah, dari seringnya kawula muda dalam mengisi waktu luang dengan gawainya, tentunya kecanduan gawai menjadi poin penting pada literasi digital ini dimana peluang besar menanti anak muda bangsa untuk menggali lebih dalam lagi potensi mereka menjadi poros perubahan dan agent of change bangsa ini. 

Ma’arif Istitute melihat potensi ini dengan mengadakan acara yang bertajuk “ Creator Muda Academy “ yang secara bergantian diadakan di 10 kota besar di Indonesia salah satunya di kota tempat tinggal saya Kota Pontianak, beruntungnya saya menjadi bagian dari acara ini walaupun hanya menjadi panitia lokal namun bagi saya ini acara yang luar biasa. Ma’arif Institute bekerja sama dengan Google.id, Cameo Project, Love Frankie, Ruangguru, Peace Generation, dan Mading Sekolah.id.

Pelatihan literasi digital yang diadakan oleh Ma’arif Institute yang bertemakan keberagaman dan toleransi dengan peserta dari pelajar SMA/sederajat di Kalimantan Barat, peserta berjumlah 200 diseleksi lagi menjadi 50 peserta yang mengikuti 2 hari pelatihan, peserta dituntut untuk kreatif dalam mengkampanyekan toleransi baik itu agama, suku, dan budaya di Indonesia dengan membuat video, mading, dan artikel mengenai toleransi walau ada beberapa yang membahas tentang kesetaraan gender dan lingkungan hidup. Peserta pun sangat antusias untuk mengikuti acara ini.

Kegiatan seperti ini wajib kita dukung dan kita sokong untuk menjadi lebih baik kedepannya karena bermain gawai juga bisa berpengaruh dalam kemajuan bangsa tentunya dengan hal yang positif dan tidak terlalu berlebihan memainkannya.
Wildan Mubaarak Minggu, Agustus 18, 2019
Read more ...




Semarak penerimaan mahasiswa baru telah menggema di berbagai universitas baik itu universitas negeri maupun yang swasta, program Kemenristedikti (kementrian riset, teknologi dan perguruan tinggi ) yang bernama PKKMB (pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru) merupakan program khusus bagi seluruh PTN (perguruan negeri tinggi) yang ada di Indonesia. Dengan diadakannya program tersebut ada beberapa pihak yang melayangkan protes akan hal ini diantaranya dari pihak senior yang merasa program ini mengambil wewenangnya dalam menerima adik-adik tingkatnya yang baru dimana sistem senioritas yang ada di kampus-kampus tertentu masih berlaku.

Dalam sistem senioritas yang dianut beberapa diantaranya masih terdapat perpeloncoan yang terjadi pada masa penerimaan mahasiswa baru ini dan ada beberapa kasus yang terjadi yang menyebabkan meninggalnya satu atau lebih mahasiswa baru, senioritas dapat dikaitkan dengan sistem feodalisme pada zaman penjajahan yang di alami Indonesia yang berkisar 351,5 tahun lamanya yang mana sistem ini sudah terjadi pada sistem senioritas kampus dan sudah membudaya dikalangan kampus yang masih beraroma senioritas tidak terkecuali kampus swasta.

Senior yang menganggap dirinya lah yang berkuasa di kampus karena sudah terlebih dulu menjadi mahasiswa kampus, hal ini menjadi polemik yang besar menurut saya dimana mahasiswa baru yang seharusnya dibimbing seniornya untuk menjalani masa perkuliahan dengan terdidik malah justru sebaliknya mereka merasa terancam dan takut ke kampus karena senior yang mendidik mereka merupakan momok menakutkan yang sekiranya bisa saja mengerjai mereka saat setelah mereka datang maupun pulang dari masa perkuliahan.

Dari sudut pandang senior yang masih meyakini bahwa senioritas menjadi sistem yang baik dalam penyambutan mahasiswa baru karena dapat melatih mental mereka untuk masa perkuliahan dan untuk mendidik mereka menghormati yang lebih tua dari mereka, menurut saya ini janggal karena cara penyambutan bisa saja dibuat dengan cara yang baik dan mendidik bukan dengan cara yang bisa dibilang feodalisme, mereka akan terdoktrin sistem seperti ini dan dapat berlangsung hingga mereka memiliki adek-adek tingkat yang lebih muda dari mereka. Seharusnya ini menjadi PR besar untuk pihak kampus dalam menyambut mahasiswa baru mereka karena ini berpengaruh dalam penerimaan mereka bisa saja calon Maba (mahasiswa baru) tidak memilih kampus tertentu karena sistem senioritasnya yang kental.

Selama masih ada cara yang baik mengapa harus menggunakan cara yang buruk ? “

-          Unknown
Wildan Mubaarak Selasa, Agustus 13, 2019
Read more ...