Ungkapan “orang pintar yang bahagia itu jurang” dapat dipahami sebagai metafora tentang kedalaman batin. Jurang bukan berarti kosong, melainkan dalam, sunyi, dan kompleks. Begitu juga dengan individu yang cerdas dan tetap bahagia, kebahagiaan mereka sering kali bukan euforia dangkal, tetapi hasil dari proses psikologis yang panjang, reflektif, dan penuh pergulatan batin.

Dalam psikologi, individu dengan kapasitas intelektual tinggi cenderung memiliki tingkat refleksi diri (self-reflection) yang lebih kuat. Mereka tidak hanya mengalami peristiwa, tetapi juga menganalisis makna di baliknya. Hal ini sejalan dengan teori regulasi emosi yang menyatakan bahwa individu yang mampu melakukan cognitive reappraisal (menafsirkan ulang pengalaman) cenderung memiliki kestabilan emosi yang lebih matang.

Namun, kecerdasan juga sering berkaitan dengan overthinking dan kesadaran eksistensial. Orang yang berpikir lebih dalam akan lebih sadar terhadap kompleksitas hidup seperti luka masa lalu, makna penderitaan, dan ketidakpastian masa depan. Dari luar, mereka mungkin tampak tenang atau bahagia, tetapi di dalamnya terdapat “jurang” refleksi yang luas. Kebahagiaan mereka bukan ketidaktahuan, melainkan penerimaan setelah memahami realitas secara mendalam.

Dalam buku Loving the Wounded Soul karya Regis Machdy, dijelaskan bahwa kondisi mental manusia sangat kompleks karena melibatkan keterhubungan antara pikiran, emosi, dan pengalaman hidup. Depresi dan luka batin tidak pernah sederhana dan setiap individu memaknainya dengan cara yang berbeda.

Regis juga menekankan bahwa faktor internal seperti kepribadian dan inteligensi dapat memengaruhi kerentanan seseorang terhadap pergulatan mental. Artinya, orang yang cerdas bukan berarti lebih kebal terhadap luka, justru mereka sering memiliki kesadaran batin yang lebih dalam terhadap penderitaan dan makna hidup.

Lebih jauh, buku tersebut menjelaskan bahwa depresi dan luka jiwa bisa memiliki “higher meaning” atau makna yang lebih tinggi dalam perjalanan hidup manusia. Proses memahami luka, menerima, dan berdamai dengan diri sendiri menjadi bagian dari pertumbuhan psikologis yang mendalam.
Di sinilah relevansi metafora “jurang”: kedalaman batin yang terbentuk dari pengalaman luka dan refleksi, bukan sekadar keceriaan di permukaan.

Menurut pendekatan psikologi eksistensial, kebahagiaan sejati sering lahir setelah individu berhadapan dengan penderitaan, bukan menghindarinya. Dalam Loving the Wounded Soul, penulis bahkan menggambarkan pengalaman masuk ke “palung jiwa paling dalam dan amat gelap” sebagai bagian dari perjalanan memahami diri dan menyembuhkan luka batin.

Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan orang yang reflektif bukanlah kebahagiaan impulsif, melainkan hasil rekonsiliasi dengan luka. Mereka tidak selalu mengekspresikan kebahagiaan secara berisik, tetapi lebih stabil dan sadar. Secara psikologis, ini mendekati konsep eudaimonic well-being yaitu kebahagiaan yang berbasis makna, bukan sekadar kesenangan sesaat.

Dalam kehidupan nyata, kita bisa melihat “jurang kebahagiaan” ini pada orang yang tidak mudah bereaksi berlebihan terhadap masalah, lebih selektif dalam relasi sosial, menikmati kesendirian sebagai ruang refleksi, dan tidak meromantisasi luka tetapi memaknainya

Mereka mungkin terlihat pendiam, tetapi bukan karena kosong—melainkan karena sedang memproses banyak hal secara internal. Seperti yang ditegaskan dalam Loving the Wounded Soul, memahami kesehatan mental berarti berhenti menghakimi dan mulai menyadari bahwa setiap orang membawa luka yang tidak kasat mata.

“Orang pintar yang bahagia itu jurang” bukan berarti kebahagiaan mereka gelap, melainkan dalam. Berdasarkan psikologi dan perspektif Loving the Wounded Soul, kecerdasan sering berjalan berdampingan dengan kesadaran batin yang luas, luka yang disadari, dan pencarian makna hidup.

Kebahagiaan mereka tidak selalu riuh, tetapi matang. Tidak selalu ringan, tetapi stabil.
Dan justru karena mereka pernah menelusuri “jurang” luka dan refleksi itulah, kebahagiaan yang mereka miliki menjadi lebih autentik—bukan kebahagiaan yang naif, melainkan kebahagiaan yang lahir dari pemahaman, penerimaan, dan kedalaman jiwa.

Wildan Mubaarak Minggu, Februari 22, 2026
Read more ...

Dua hari terakhir ini perasaanku terasa gundah. Aku sendiri belum benar-benar mengerti apa yang sedang kuratapi, tetapi aku yakin kegelisahan ini ada hubungannya dengan luka-luka lama yang selama ini kupendam dan belum benar-benar selesai. Luka itu mungkin tidak lagi tampak di permukaan, namun rupanya masih berdenyut di dalam diam.

Setiap hari aku mencoba mensugesti diriku untuk menerima dan memaafkan masa lalu. Aku menanamkan keyakinan bahwa semua yang telah berlalu memang harus dilepaskan. Sugesti itu menjadi semacam mandat bagi diriku sendiri—sebuah dorongan untuk tetap hidup, tetap berkembang, dan tetap berjalan ke depan. Walau tidak selalu mudah, aku tahu proses ini penting untuk keberlanjutan diriku.

Sejak patah hati terbesarku, ada satu hal yang tanpa sadar tumbuh dalam diriku: tembok yang tinggi. Tembok itu kubangun untuk siapa pun yang ingin masuk ke dalam kehidupanku. Aku menjadi nyaman dengan hidup yang terisolasi—hidup di tempat di mana tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenalku, atau menjalani kehidupan sosial yang sangat minim. Dalam sepi itu, aku merasa aman. Namun di sisi lain, aku tahu bahwa keamanan itu lahir dari ketakutan.

Belakangan ini prinsip-prinsip yang pernah kubangun kembali muncul satu per satu. Seolah-olah mereka datang untuk mengingatkanku agar kembali menata hidup dengan lebih baik dan bertindak dengan lebih bijaksana. Aku merasa Tuhan sedang menunjukkan jalan-Nya. Aku dipertemukan kembali dengan orang-orang yang dulu pernah berproses bersamaku. Meski tidak banyak percakapan yang terjadi, ada rasa hangat dan bahagia karena bisa bertemu kembali. Seakan-akan semesta sedang memberi tanda bahwa aku tidak benar-benar sendiri.

Dari kisah romantikaku, aku belajar banyak. Aku belajar untuk tidak terlalu terjatuh ke dalam jurang romantisme dan tidak lagi meromantisasi tindakan yang sebenarnya menyakitkan atau keliru. Aku belajar bahwa mencintai tidak berarti harus mengabaikan logika dan harga diri.

Ada satu kutipan yang terus terngiang dalam pikiranku, sebuah anekdot yang sering dikaitkan dengan Sokrates:
"Bagaimanapun menikahlah. Jika kau mendapatkan istri yang baik, kau akan bahagia; jika kau mendapatkan istri yang buruk, kau akan menjadi seorang filsuf."

Kutipan itu terdengar sederhana, bahkan jenaka, tetapi bagiku ia terasa relevan. Bahwa dalam setiap pengalaman—baik atau buruk—selalu ada pelajaran. Kebahagiaan mengajarkanku rasa syukur, sementara luka mengajarkanku kedalaman berpikir dan kebijaksanaan.

Mungkin kegundahan ini bukan sekadar kesedihan. Mungkin ini adalah tanda bahwa aku sedang bertumbuh. Dan jika memang harus menjadi seorang “filsuf” karena pengalaman-pengalaman hidupku, maka biarlah. Setidaknya aku belajar, dan aku terus berjalan.

Wildan Mubaarak Minggu, Februari 22, 2026
Read more ...

Ada kesedihan yang datang tanpa sebab yang jelas. Ia tidak gaduh, tidak dramatis, tetapi menetap—diam-diam memenuhi ruang hati yang seharusnya sudah kosong. Saya sering bertanya pada diri sendiri, mengapa saya masih merasa sedih, padahal saya tidak benar-benar tahu apa yang sedang saya tangisi. Semuanya sudah berakhir, sudah saya terima dengan logika, sudah saya paksa untuk dilepaskan. Namun entah mengapa, ada bagian dari jiwa saya yang seolah belum pernah benar-benar pergi.

Yang paling membingungkan adalah ketika saya melihatnya dari jauh, bahkan hanya lewat layar, dan mendapati ia bersedih, saya pun ikut merasa sedih. Bukan karena saya masih memiliki hak untuk peduli, tetapi karena perasaan itu datang begitu saja, tanpa izin, tanpa alasan yang bisa dijelaskan. Seolah-olah benang merah itu masih belum terputus, ia tetap terhubung meski hubungan itu sendiri telah usai. Saya tidak lagi berada di sisinya, tetapi hati saya masih bereaksi terhadap hal-hal yang menyentuh hidupnya.

Saya sudah berusaha melepaskan. Berkali-kali meyakinkan diri bahwa semuanya telah selesai. Namun melepaskan ternyata bukan tentang seberapa kuat kita ingin pergi, melainkan seberapa dalam kita pernah tinggal. Ada hari-hari di mana saya merasa baik-baik saja, lalu di saat lain, saya diam-diam berharap bertemu dengannya secara kebetulan, di persimpangan jalan, di tempat yang tak direncanakan, di kemungkinan-kemungkinan kecil yang sebenarnya hampir mustahil. Dan anehnya, harapan kecil itu justru terasa paling menyakitkan. Setiap kemungkinan yang tidak terjadi seperti menusuk jantung perlahan, mengingatkan bahwa yang saya tunggu mungkin tidak akan pernah kembali.

Perasaan ini bukan lagi tentang ingin kembali sepenuhnya, melainkan tentang jiwa yang belum sepenuhnya terlepas. Ada keterikatan yang tidak lagi memiliki bentuk, tetapi masih memiliki rasa. Saya tidak menghubunginya, tidak mencarinya secara nyata, tetapi semesta seakan menunjukkan kabar tentangnya dan setiap kali melakukannya, hati saya seperti sesak.

Lalu, ketika semesta menunjukkan bahwa ia sudah memiliki yang baru, sesuatu di dalam diri saya runtuh. Bukan hanya sedih, tetapi hancur dalam diam. Rasanya seperti kehilangan untuk kedua kalinya—kali ini bukan karena perpisahan, melainkan karena kenyataan bahwa tempat saya benar-benar telah tergantikan. Saat itu saya sadar, bahwa selama ini mungkin saya belum benar-benar melepaskan, saya hanya belajar hidup dengan rasa yang masih tertinggal.

Yang menyakitkan bukan hanya tentang dia yang melanjutkan hidup, tetapi tentang saya yang masih merasa terhubung sementara ia sudah berjalan ke arah yang berbeda. Ada jarak yang tidak hanya memisahkan langkah, tetapi juga perasaan. Dan di situlah letak kesedihan yang paling sunyi, melepaskan dalam perlahan dan menyadari bahwa jiwa saya masih menoleh ke arah seseorang yang sudah tidak lagi menoleh kembali.

Mungkin beginilah rasanya—ketika hati sudah mencoba ikhlas, tetapi perasaan belum sepenuhnya selesai. Sebuah kesedihan tanpa nama, keterhubungan tanpa status, dan harapan kecil yang terus hidup meski tahu bahwa kemungkinan itu semakin menjauh.

Wildan Mubaarak Minggu, Februari 22, 2026
Read more ...


Buku Atomic Habits, James Clear memperkenalkan konsep penting bernama Goldilocks Rule, yaitu prinsip yang menjelaskan bahwa manusia paling termotivasi ketika mengerjakan sesuatu yang tingkat kesulitannya “pas”—tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Dalam konteks pembentukan kebiasaan, prinsip ini menjadi kunci untuk menjaga konsistensi dan motivasi dalam jangka panjang.

Goldilocks Rule berangkat dari gagasan bahwa motivasi tidak hanya ditentukan oleh niat atau disiplin, tetapi juga oleh desain tingkat tantangan. Ketika sebuah tugas terlalu mudah, otak cenderung merasa bosan karena tidak ada dorongan untuk berkembang. Sebaliknya, ketika tugas terlalu sulit, muncul rasa frustrasi, kelelahan mental, dan keinginan untuk menyerah. Namun ketika tingkat kesulitan berada sedikit di atas kemampuan saat ini, kita merasakan tantangan yang cukup menarik sekaligus masih dapat dicapai. Kondisi inilah yang membuat seseorang lebih fokus, terlibat, dan konsisten dalam menjalankan kebiasaan.

Dalam banyak kasus membangun kebiasaan bukan karena kurang motivasi, melainkan karena menetapkan target yang tidak seimbang. Ada yang memulai terlalu besar, seperti langsung berolahraga satu jam setiap hari atau membaca satu buku per minggu, padahal belum memiliki kebiasaan dasar. Target yang terlalu tinggi sering kali menciptakan tekanan psikologis dan membuat kebiasaan terasa berat. Sebaliknya, target yang terlalu kecil tanpa perkembangan juga dapat menimbulkan kebosanan dan kehilangan makna. Goldilocks Rule menawarkan jalan tengah: menetapkan tantangan yang realistis tetapi tetap menantang agar kebiasaan terasa menarik untuk dipertahankan.

Prinsip ini juga berkaitan erat dengan konsep “flow”, yaitu kondisi ketika seseorang tenggelam dalam aktivitas dengan fokus penuh dan rasa keterlibatan tinggi. Flow terjadi saat ada keseimbangan antara kemampuan dan tantangan. Jika tantangan terlalu rendah, seseorang akan merasa jenuh. Jika terlalu tinggi, muncul kecemasan dan tekanan. Namun ketika keduanya selaras, aktivitas menjadi lebih menyenangkan dan produktif. Goldilocks Rule membantu menciptakan kondisi flow dengan cara menjaga tingkat kesulitan tetap berada dalam batas optimal.

Penerapan Goldilocks Rule dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Dalam belajar, materi yang terlalu mudah membuat siswa cepat bosan, sedangkan materi yang terlalu sulit dapat menurunkan rasa percaya diri. Materi dengan tingkat kesulitan yang tepat justru meningkatkan pemahaman dan ketekunan. Dalam olahraga, peningkatan intensitas latihan secara bertahap lebih efektif dibanding latihan ekstrem yang berisiko cedera atau kelelahan. Di dunia kerja, target yang realistis namun menantang cenderung menghasilkan performa yang lebih stabil dibanding target yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Hal yang sama berlaku dalam kebiasaan menulis, membaca, atau belajar keterampilan baru.

James Clear menekankan pentingnya peningkatan kecil yang konsisten sebagai strategi utama dalam menerapkan Goldilocks Rule. Alih-alih melakukan perubahan drastis, seseorang disarankan untuk meningkatkan tingkat kesulitan secara bertahap, misalnya sekitar 1–5 persen dari kemampuan sebelumnya. Pendekatan ini menjaga keseimbangan antara tantangan dan kemampuan, sehingga otak tetap tertarik tanpa merasa kewalahan. Kemajuan kecil yang berulang akan membangun rasa pencapaian, yang pada akhirnya memperkuat motivasi intrinsik.

Selain itu, Goldilocks Rule menunjukkan bahwa konsistensi lebih berpengaruh daripada intensitas sesaat. Banyak orang mengandalkan motivasi besar di awal, tetapi kehilangan semangat ketika kebiasaan terasa terlalu berat. Dengan tingkat kesulitan yang tepat, kebiasaan menjadi lebih mudah diulang karena tidak menimbulkan resistensi mental yang tinggi. Rasa kemajuan yang stabil juga membantu membentuk identitas diri, seperti melihat diri sebagai pembaca, penulis, atau individu yang disiplin. Identitas ini memperkuat perilaku positif secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, Goldilocks Rule dalam Atomic Habits menegaskan bahwa keseimbangan adalah inti dari pembentukan kebiasaan yang bertahan lama. Kebiasaan yang terlalu mudah tidak mendorong pertumbuhan, sedangkan kebiasaan yang terlalu sulit melemahkan konsistensi. Dengan menjaga tingkat tantangan tetap “pas”—cukup menantang namun tetap dapat dicapai—seseorang dapat mempertahankan motivasi, meningkatkan fokus, dan mencapai perkembangan jangka panjang secara berkelanjutan. Prinsip ini menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu berasal dari langkah ekstrem, melainkan dari kemajuan kecil yang dilakukan secara konsisten dan terarah.

Wildan Mubaarak Selasa, Februari 17, 2026
Read more ...

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa ada satu sosok yang ditakdirkan untuk mereka—sebuah benang merah yang tak terlihat namun diyakini nyata. Menariknya, dalam beberapa penelitian psikologi membuktikan bahwa kepercayaan ini bukan sekadar romantisasi kosong. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang dewasa mempercayai konsep soulmate, keyakinan tersebut diam-diam membentuk cara mereka mencintai, bertahan, dan terluka. 

Seseorang yang percaya pada cinta sebagai takdir cenderung jatuh cinta lebih cepat, merasa terhubung lebih dalam, tetapi juga mengalami patah hati yang lebih menyakitkan ketika hubungan berakhir. Fakta ini mengejutkan bahwa benang merah yang sering kita anggap menenangkan justru bisa menjadi alasan mengapa kita bertahan terlalu lama, berharap terlalu besar, dan sulit melepaskan sesuatu yang seharusnya sudah selesai.

Dialah Red String Theory yang mentebutkan bahwa keyakinan bahwa dua orang yang ditakdirkan saling terhubung oleh sebuah benang merah tak terlihat, menginspirasi banyak orang dalam memahami hubungan manusia. Mitos ini berasal dari budaya Tiongkok dan Jepang, tetapi apakah ada bukti ilmiah dalam psikologi yang mendukung ide takdir dalam hubungan? Jawabannya lebih kompleks daripada sekadar percaya atau tidak percaya.

Penting untuk dipahami bahwa Red String Theory tidak muncul sebagai konsep empiris dalam literatur psikologi. Tidak ada penelitian yang secara langsung membuktikan adanya “benang merah takdir” yang menghubungkan dua individu. Namun, penelitian psikologi telah lama meneliti keyakinan terhadap takdir dan pengaruhnya terhadap hubungan. Dalam kajian tentang kepercayaan terhadap “destiny” dalam hubungan romantis—pandangan bahwa ada “pasangan yang tepat” yang sudah ditetapkan sebelumnya—para peneliti menemukan dua pola utama pola berpikir dalam hubungan yaitu destiny belief dan growth belief

Destiny belief mencerminkan gagasan bahwa hubungan itu ditentukan sejak awal, sementara growth belief menekankan bahwa hubungan berkembang melalui usaha bersama. Pola berpikir ini berhubungan dengan cara orang memaknai dan memelihara hubungan mereka. Penelitian menemukan bahwa orang dengan growth belief cenderung melaporkan dinamika hubungan yang lebih sehat karena mereka melihat hubungan sebagai sesuatu yang perlu diusahakan bersama, bukan hanya sekadar takdir yang membimbing segalanya.

Keyakinan terhadap takdir atau “cinta sejati” dapat mempengaruhi pengalaman emosional seseorang dalam hubungan. Sebuah studi yang meneliti peran destiny belief dalam konteks perilaku hubungan online di China menemukan bahwa bagi individu dengan tingkat kepercayaan takdir yang tinggi, tekanan emosional setelah putus atau ghosting dapat berkurang karena mereka lebih cenderung memaknai perpisahan sebagai bagian dari perjalanan takdir. Hasil ini menunjukkan bahwa keyakinan terhadap takdir bisa memoderasi respon emosional seseorang terhadap dinamika hubungan.

Namun, dalam beberapa bukti ilmiah juga memperingatkan bahwa mengandalkan takdir tanpa usaha tidak selalu sehat. Faktor-faktor seperti attachment style—pola kelekatan emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan berlanjut hingga kehidupan dewasa—yang terbukti kuat dalam memprediksi kualitas hubungan. Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa attachment style yang tidak aman berkaitan dengan kepuasan hubungan yang lebih rendah dan peningkatan konflik interpersonal. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan hubungan lebih berkaitan dengan dinamika psikologis nyata dan kesiapan emosional individu daripada sekadar keyakinan takdir.

Dalam konteks yang lebih luas, keyakinan terhadap takdir—seperti yang digambarkan dalam Red String Theory—bisa menjadi mekanisme psikologis yang membantu beberapa individu memberi makna pada pengalaman hubungan, terutama di masa patah hati atau ketidakpastian. Tetapi jika kepercayaan ini membuat seseorang bersikap pasif dan tidak berusaha mengembangkan hubungan, itu bisa berdampak negatif.

Dalam beberapa perspektif psikologi, Red String Theory lebih merupakan metafora yang emosional dan simbolis, bukan teori ilmiah yang didukung langsung oleh data. Penelitian menunjukkan bahwa keyakinan terhadap takdir memang mempengaruhi bagaimana seseorang merasakan dan memaknai hubungan, tetapi keberhasilan hubungan sendiri juga sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terukur seperti pola attachment, komunikasi, dan usaha bersama. Dengan kata lain, kita tidak perlu menolak sepenuhnya gagasan takdir, tetapi peran takdir itu sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pengalaman subjektif, bukan sebagai penentu utama dari hasil hubungan.

Wildan Mubaarak Senin, Januari 19, 2026
Read more ...

Dalam kehidupan modern yang sarat tekanan sosial, ekonomi, dan ekspektasi personal, seseorang kerap mencari cara untuk meredakan stres dan ketidaknyamanan psikologis. Salah satu fenomena yang semakin banyak dibahas dalam kajian psikologi maupun percakapan publik di media sosial adalah escapism. Escapism merujuk pada kecenderungan untuk melarikan diri dari realitas yang dirasa menekan menuju pengalaman alternatif yang dianggap lebih aman, menyenangkan, atau bermakna. Pelarian ini dapat berbentuk aktivitas yang tampak sederhana seperti bernostalgia, mengonsumsi hiburan digital secara berlebihan, hingga tenggelam dalam dunia imajiner.

Dalam literatur psikologi, escapism tidak selalu dipandang sebagai perilaku patologis. Beberapa jurnal menyebutkan bahwa escapism dapat berfungsi sebagai coping mechanism sementara untuk mengurangi stres dan kelelahan emosional (Baumeister, 1991). Dalam batas wajar, pelarian psikologis membantu individu mengatur regulasi emosi serta mempertahankan keseimbangan psikologis.

Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa escapism dapat menjadi maladaptif ketika digunakan secara berlebihan dan terus-menerus. Kardefelt-Winther (2014), dalam penelitiannya mengenai perilaku adiktif digital, menjelaskan bahwa escapism yang berakar pada ketidakmampuan menghadapi masalah hidup secara langsung dapat memperparah kecemasan, depresi, dan perasaan tidak berdaya. Dalam konteks ini, escapism bukan lagi sekadar pelarian sementara melainkan pola penghindaran kronis.

Perkembangan teknologi dan media digital memperluas bentuk escapism. Media sosial, gim daring, layanan streaming, dan komunitas virtual menyediakan ruang alternatif tempat yang dapat membangun identitas, relasi, dan pengalaman yang berbeda dari kehidupan nyata. Jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking mencatat bahwa individu dengan tingkat stres tinggi cenderung menggunakan dunia digital sebagai sarana regulasi emosi.

Media sosial menjadi ruang terbuka yang memperlihatkan berbagai manifestasi escapism. Beberapa kasus viral menunjukkan individu yang secara terbuka mengaku merasa "hidup di masa lalu", menolak bertambah dewasa, atau lebih merasa nyaman di dunia imajiner. Misalnya, tren konten yang meromantisasi masa sekolah dengan narasi penolakan terhadap tanggung jawab dewasa sering mendapat resonansi luas dari warganet.

Kasus lain terlihat pada pengakuan burnout pekerja muda yang memilih menghilang sementara dari kehidupan sosial nyata dan menghabiskan waktu berhari-hari dalam dunia gim atau maraton serial. Dalam beberapa unggahan, banyak orang menyebut aktivitas tersebut sebagai satu-satunya cara untuk "bertahan hidup secara mental". Meski mendapat empati publik, para psikolog yang turut merespons di media sosial menekankan bahwa pelarian semacam ini berpotensi menjadi siklus tidak sehat bila tidak diimbangi dengan pemecahan masalah nyata.

Fenomena escapism di media sosial memunculkan dilema antara empati dan kritik. Di satu sisi, perilaku ini mencerminkan kebutuhan psikologis yang valid—keinginan untuk merasa aman dan dipahami. Di sisi lain, normalisasi escapism ekstrem berisiko mengaburkan batas antara koping sehat dan penghindaran destruktif. 

Escapism juga dapat muncul dalam bentuk romantisasi masa lalu. seseorang mengidealkan fase hidup tertentu—masa sekolah, hubungan lama, atau periode "kejayaan"—sebagai tempat berlindung psikologis dari realitas kini yang dianggap gagal atau tidak memuaskan. Fenomena ini kerap berkaitan dengan nostalgia maladaptif.

Jurnal Journal of Affective Disorders mencatat bahwa seseorang yang terus-menerus menghindari realitas cenderung mengalami penurunan fungsi sosial dan peningkatan gejala depresi. Oleh karena itu, penting untuk memandang escapism secara kontekstual: sebagai sinyal adanya tekanan psikologis yang belum terselesaikan.

Escapism merupakan fenomena kompleks yang berada di antara mekanisme koping adaptif dan potensi gangguan kesehatan mental. Dalam dunia modern yang penuh tekanan, pelarian psikologis menjadi respons yang manusiawi. Namun, ketika escapism menjadi satu-satunya cara menghadapi hidup, ia berubah menjadi penjara tak kasat mata.

Pendekatan yang seimbang diperlukan—baik secara individu maupun sosial. Alih-alih semata-mata menghakimi atau membenarkan, escapism seharusnya dipahami sebagai pintu masuk untuk membicarakan kesehatan mental, tekanan struktural, dan kebutuhan akan dukungan psikologis yang lebih manusiawi.

Wildan Mubaarak Kamis, Januari 15, 2026
Read more ...

Behaviorisme merupakan salah satu aliran besar dalam psikologi yang menekankan bahwa perilaku manusia dapat dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah melalui pengamatan terhadap respons yang muncul akibat suatu stimulus. Aliran ini berkembang pesat pada awal abad ke-20 sebagai reaksi terhadap pendekatan psikologi sebelumnya yang dianggap terlalu subjektif karena berfokus pada kesadaran dan introspeksi.

Tokoh utama dalam aliran behaviorisme adalah John B. Watson, yang menyatakan bahwa psikologi seharusnya menjadi ilmu yang objektif dan hanya mempelajari perilaku yang dapat diamati. Menurut Watson (1913), perilaku manusia bukanlah hasil dari proses mental internal yang abstrak, melainkan terbentuk melalui hubungan antara stimulus dan respons (S–R). Pandangan ini menjadi dasar utama behaviorisme klasik.

Perkembangan behaviorisme semakin kuat dengan penelitian Ivan Pavlov mengenai classical conditioning. Pavlov membuktikan bahwa perilaku dapat dipelajari melalui proses pengkondisian, yaitu ketika stimulus netral dipasangkan secara berulang dengan stimulus yang menimbulkan respons alami. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa makhluk hidup dapat belajar membentuk respons baru melalui asosiasi stimulus tertentu (Pavlov, 1927).

Selain itu, B.F. Skinner memperkenalkan konsep operant conditioning, yang menekankan peran konsekuensi dalam membentuk perilaku. Skinner menjelaskan bahwa perilaku akan cenderung diulang jika diikuti oleh penguatan (reinforcement) dan akan berkurang jika diikuti oleh hukuman (punishment). Konsep ini banyak diterapkan dalam dunia pendidikan, manajemen, dan terapi perilaku karena dianggap efektif dalam membentuk kebiasaan tertentu (Skinner, 1953).

Dalam praktiknya, behaviorisme memiliki pengaruh besar terutama di bidang pendidikan. Proses belajar dipandang sebagai perubahan perilaku yang dapat diamati, misalnya melalui peningkatan nilai, kecepatan respon, atau penguasaan keterampilan tertentu. Guru berperan memberikan stimulus berupa materi dan penguatan agar siswa menunjukkan respons belajar yang diharapkan. Pendekatan ini juga banyak digunakan dalam terapi perilaku untuk mengatasi gangguan seperti fobia, kecanduan, dan gangguan perilaku anak.

Namun demikian, behaviorisme juga memiliki keterbatasan. Kritik utama terhadap aliran ini adalah kecenderungannya mengabaikan proses mental internal seperti pikiran, emosi, dan motivasi. Hal ini menyebabkan behaviorisme dianggap terlalu mekanistik dan kurang mampu menjelaskan perilaku kompleks manusia. Kritik tersebut kemudian melahirkan pendekatan kognitif yang melengkapi kelemahan behaviorisme.

Meskipun demikian, behaviorisme tetap memiliki kontribusi penting dalam perkembangan psikologi modern. Prinsip-prinsip pengkondisian dan penguatan masih relevan dan digunakan hingga saat ini, terutama dalam pembelajaran, pelatihan, dan modifikasi perilaku. Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis observasi, behaviorisme membantu psikologi menjadi disiplin ilmu yang lebih objektif dan terukur.

Wildan Mubaarak Senin, Januari 12, 2026
Read more ...

Menurut saya, Atomic Habits memberikan cara pandang yang sangat realistis tentang bagaimana kebiasaan terbentuk dan mengapa perubahan sering kali terasa sulit. Konsep petunjuk, gairah, tanggapan, dan hasil menunjukkan bahwa kebiasaan bukanlah soal kemauan semata, melainkan tentang sistem yang bekerja secara otomatis dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan merupakan perilaku yang dilakukan secara berulang dan cenderung berlangsung secara otomatis dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan terbentuk bukan secara kebetulan, melainkan melalui suatu pola yang konsisten. Para ahli perilaku menjelaskan bahwa kebiasaan dibangun melalui empat komponen utama, yaitu petunjuk (cue), gairah (craving), tindakan (response), dan ganjaran (reward). Keempat komponen ini saling berkaitan dan membentuk suatu siklus yang memperkuat perilaku seseorang.

Komponen pertama adalah petunjuk (cue). Petunjuk merupakan pemicu awal yang memberi sinyal kepada otak untuk memulai suatu perilaku. Petunjuk dapat berupa waktu tertentu, lokasi, emosi, orang lain, atau peristiwa yang terjadi sebelumnya. Misalnya, rasa lelah setelah bekerja dapat menjadi petunjuk untuk beristirahat atau mencari hiburan. Tanpa adanya petunjuk, kebiasaan tidak akan dimulai karena otak tidak menerima sinyal untuk bertindak.

Komponen kedua adalah gairah (craving). Gairah merupakan dorongan atau keinginan internal yang muncul sebagai respons terhadap petunjuk. Pada tahap ini, seseorang tidak menginginkan kebiasaan itu sendiri, melainkan perubahan kondisi yang dihasilkan oleh kebiasaan tersebut, seperti rasa nyaman, kepuasan, atau pengurangan stres. Gairah inilah yang memberikan motivasi kuat untuk melakukan suatu tindakan. Jika gairah tidak cukup kuat, kebiasaan cenderung tidak akan berlanjut.

Selanjutnya adalah tindakan (response). Tindakan merupakan perilaku nyata yang dilakukan sebagai respons terhadap gairah yang dirasakan. Tindakan ini bisa berupa aktivitas fisik maupun mental, seperti membaca buku, mengonsumsi makanan tertentu, atau membuka media sosial. Suatu tindakan akan menjadi kebiasaan apabila dilakukan secara konsisten dan dianggap mudah untuk dilakukan. Semakin sederhana suatu tindakan, semakin besar kemungkinan tindakan tersebut diulang.

Komponen terakhir adalah ganjaran (reward). Ganjaran merupakan hasil atau manfaat yang diperoleh setelah melakukan tindakan. Ganjaran berperan penting karena memberi kepuasan dan mengajarkan otak bahwa perilaku tersebut layak untuk diulang di masa depan. Ganjaran dapat berupa perasaan senang, pencapaian, atau rasa lega. Tanpa ganjaran, siklus kebiasaan tidak akan terbentuk secara utuh karena otak tidak mendapatkan alasan untuk mengulangi perilaku tersebut.

Secara keseluruhan, keempat komponen ini membentuk suatu siklus kebiasaan yang berulang. Petunjuk memicu gairah, gairah mendorong tindakan, dan tindakan menghasilkan ganjaran. Memahami keempat komponen ini sangat penting dalam membangun kebiasaan positif maupun mengubah kebiasaan negatif. Dengan mengelola setiap komponen secara sadar, seseorang dapat menciptakan perubahan perilaku yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Wildan Mubaarak Senin, Januari 12, 2026
Read more ...